Monday, September 5, 2016

Cara menerbitkan buku dengan 5 Rahasia Agar Penerbit Buku Melirik Naskah Kita

Cara menerbitkan buku dengan 5 Rahasia Agar Penerbit Buku Melirik Naskah Kita

Naskah ditolak tidak selalu tulisan kita jelek, bisa juga disebabkan karena segmentasi penerbit buku dan penulis berbeda. Mari kita tilik cara menerbitkan buku dengan 5 rahasia agar penerbit buku melirik naskah kita.

cara menerbitkan buku | penerbit buku

Seorang penulis buku dituntut untuk jeli dan pandai memilih penerbit buku yang sejalan dengan tulisan kita, karena hal itu merupakan cara menerbitkan buku yang benar. Buku dengan konten menarik tidak menjamin buku kita diterima oleh penerbit buku.  Hal ini disebabkan karena setiap penerbit memiliki standar dan spesifikasi jenis buku yang dituliskan. Misalnya, penerbit buku khusus buku politik tentu memprioritaskan naskah berbau buku politik, dan menolak buku bentuk fiksi. Bagaimana tips memilih penerbit buku agar tidak membuang-buang waktu penulis? Check this out:

  1. Amati Karakteristik Penerbit Buku | Cara Menerbitkan Buku |

Mengamati karakteristik penerbit buku sejak awal membantu penulis lebih efisien secara waktu. Masa pengajuan Naskah ke penerbit minimal 3 bulan, bahkan bisa 6 bulan sampai satu tahun lamannya. Dengan mengenali karakteristik dan minat penerbit, membantu penulis lebih menghemat waktu, tidak terlalu lama menunggu. Terutama untuk beberapa penerbit mayor penerbit yang skala besar.

Penerbit mayor, mereka lebih menitikberatkan pada isi dan tema. Misalnya, apakah tema yang diangkat sama dengan kebanyakan buku, atau berbeda dan unik. Beberapa penerbit skala Nasional, mereka lebih mengutamakan buku yang jarang diulas oleh penulis kebanyakan. Sedangkan buku-buku turunan, atau buku yang hampir sama biasannya akan ditolak. Tipsnya, jika memiliki buku yang sudah banyak diulas, upayakan untuk mengirimkankan ke penerbit yang memang tidak banyak persaingannya.

  1. Pahami Isi Buku, dan Presentasikan Karya Kita Dengan Menarik  | Cara Menerbitkan Buku |


Memahami isi buku penting bagi penulis. Hal ini membantu penulis saat melakukan presentasi kepada penerbit. Presentasi dilakukan ketika penulis ingin menawarkan buku ke penerbit. Presentasi yang menarik tentu akan menarik penerbit. Bentuk presentasi bisa secara lisan maupun secara tertulis. Umumnya, penulis memperkenalkan bukunya kepada penerbit dalam bentuk proposal. Ketika proposal lolos, dan pihak penerbit cocok, maka penerbit akan memberikan Surat Perjanjian Kerjasama (SPK). Penulis dan penerbit yang masih satu wilayah kota, biasannya akan bertatap muka. Adapun presentasi secara lisan, dapat dilakukan ketika penulis buku mendatangi penerbit, dan menawarkan naskah secara langsung, di sinilah seorang penulis dituntut harus pandai menyampaikan hal yang menarik dari buku yang ditulisnya.

  1. Sebelum Mengirim Naskah, Buat Daftar Penerbit Buku Sebanyak Mungkin  | Cara Menerbitkan Buku |

Selektif memilih penerbit buku itu penting. Setiap penerbit memiliki kebijakan sendiri-sendiri ketika menerima naskah masuk. Ada tipe penerbit yang cepat memberikan konfirmasi lolos dan tidaknya naskah kita. Namun ada pula penerbit yang lambat memberi konfirmasi, dengan banyak alasan, baik itu alasan karena banyak naskah masuk atau penerbit terlalu banyak kegiatan.  Ada tipe penerbit yang mengedepankan pada EYD, penggunaan diksi yang harus formal, namun ada pula penerbit yang menyarankan penulis menggunakan bahasa yang santai. Hal-hal kecil seperti ini penulis juga harus memperhatikannya.

Tidak ada salahnya membuat daftar penerbit buku sebanyak mungkin. Dari sekian puluh penerbit buku yang terkumpul, pilih penerbit yang menerbitkan buku-buku yang sesuai dengan naskah kita. Misalnya ada 10 penerbit yang sejalan dengan naskah kita. Buat skala prioritas penerbit yang akan kita masukan proposal naskah kita. Pilih penerbit yang memiliki kredibilitas dan memang dapat dipercaya.

  1. Cari Tahu Kredibilitas Penerbit Tersebut  | Cara Menerbitkan Buku |

Mencari tahu informasi penerbit tidak hanya meliputi teknis pengiriman Naskah. Cari tahu juga perihal pembayaran royalti kepada penulis, hak penulis, keuntungna penulis dan sejenisnya. Karena ada beberapa penerbit nakal, tidak membayarkan hak penulis, terlambat hingga berbulan-bulan dan pencairan yang tersendat-sendat. Karena tidak semua penerbit memiliki loyalitas dan tertib memberikan hak-hak kepada Penulis.

Bagaimana tatakrama menanyakan hal-hal pembayaran royalti ke penerbit? Bukankah itu memalukan? Seorang penulis tidak perlu merasa malu menanyakan hal semacam ini jika tidak ingin rugi dibelakang. Salah satu fungsinya kerjasama dengan penerbit adalah transparansi dan rasa percaya antara penulis dan penerbit. Lebih baik bertanya daripada diam, kesulitan kemudian.

Bagaimana cara mengetahui informasi tentang penerbit? Kita bisa menanyakan teman yang sudah lama menjadi penulis di sana. Bisa juga kita secara terang-terangan mencari tahu secara langsung menanyakan ke penerbit buku sebelum menyerahkan proposal naskah kita kepada mereka.

  1. Pastikan Penerbit Buku Tersebut Bukan Penerbit Nakal  | Cara Menerbitkan Buku |

Berbicara tentang penerbit buku yang nakal. Seorang penulis wajib waspada. Setidaknya, penerbit buku memiliki hak kepada penulis untuk membayarkan hak penulis secara penuh. Misalnya, penulis mendapatkan 8% sampai 12% , tergantung kesepakatan penerbit dan penulis. penerbit menepati SPK yang sudah disepakati kedua belah pihak, penerbit memberikan laporan penjualan buku secara akuntabel kepada penulis. Tidak hanya itu, seorang penulis juga memiliki hak moral. Hak moral adalah pengakuan. Ketika kutipan naskah, penerjemahan naskah, sampai penggandaan naskah harus sepengetahuan dan seijin penulis.

Tidak semua penerbit berkredibel, dan banyak penerbit nakal. Dikatakan penerbit nakal ketika penulis tidak mendapatkan haknya, dan penerbit mengambil dan melanggar SPK yang sudah tertulis.

Dari kelima poin di atas semoga membantu meminimalisir terjadinya penolakan naskah dan menghindarkan salah masuk di penerbit nakal. Apakah Anda masih binggung memilih penerbit mana? Atau masih kesulitan menemukan penerbit yang cocok? Atau mungkin sudah puluhan kali naskah selalu ditolak? Anda bisa percayakan naskah Anda di penerbit buku Deepulish.

Kunci keberhasilan seorang penulis bukan seberapa cepat naskah bisa diterima oleh penerbit. Tetapi tergantung cara menerbitkan buku yang tepat, dan seberapa gigih kita menghadapi persaingan. Kemenangan bukan ditentukan oleh diterima atau tidaknya naskah kita. Kemenangan ditentukan oleh seberapa kuat kita bersaing secara sportif dengan pesaing yang lebih senior.  

Itulah penjelasan dari artikel "Cara menerbitkan buku dengan 5 Rahasia Agar Penerbit Buku Melirik Naskah Kita" ini, semoga bisa memberikan manfaat. Silakan baca juga artikel kami yang lain:

[Elisa]


Referensi :
  1. http://www.kompasiana.com/johanmenulisbuku/ciri-ciri-penerbit-nakal_5510cad0813311a839bc6f14, diakses pada hari Kamis, 05 Mei 2016, Pukul 09.25 WIB.


Cara menerbitkan buku langkah awal: Mengenal Lebih Jauh Tentang Penerbit Buku

Cara menerbitkan buku langkah awal: Mengenal Lebih Jauh Tentang Penerbit Buku

cara menerbitkan buku | penerbit buku

Mari kita telaah cara menerbitkan buku dari awal yang harus kita perhatikan. Yaitu pertama-tama kita harus lebih mengenal penerbit buku secara lebih dekat. Mulai dari menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana: Apa itu penerbit buku? Apa tujuan penerbitan? Apa tugas penerbit buku? Serta apa saja karakteristik penerbit buku?

Langkah awal cara menerbitkan buku di penerbit buku adalah mengetahui apa itu penerbitan. Penerbitan merupakan proses panjang yang melibatkan banyak waktu dan orang untuk mengolah naskah sampai berbentuk dummy. Sedangkanyang dimaksud dengan penerbit lebih mengacu pada aktivitas manusia, sebagai kordinator dalammenyebarluaskan hasil karya dari pihak pengarang.

Penerbitan adalah kegiatan intelektual dan profesional dalam menyiapkan naskah,menyunting naskah, menghasilkan berbagai jenis bahan publikasi kemudian memperbanyak sertamenyebarluaskannya untuk kepentingan umum.
Perkembangan teknologi turutmemperluas pengertian penerbitan. Penerbitan bukan saja industri penghasil barang cetak, namunpenghasil buku-buku elektronik yang kemudian disebut ebook. Begitu pula dengan penerbit pers yang sudah meluas dengan adanya koran maupun majalah online.

Secara garis besar, penerbitan dibagi menjadidua bagian besar yakni penerbitan buku dan penerbitan pers. Penerbit buku berkonsentrasimemperbanyak literatur maupun informasi dalam bentuk produk cetak seperti buku. Berbeda dengan penerbit buku, penerbit pers lebih berkonsentrasi pada menyiapkan informasi-informasiaktual yang dapat dinikmati pembaca maupun pemirsa di rumah.

Belakangan ini juga semakin marak Self Publisher yaitu istilah untuk penerbit yang kecil, dimana penulis dapat menerbitkan bukunya sendiri tanpa harus melalui penerbit yang besar. Munculnya Self Publisher dikarenakan belum adanya aturan yang mewajibkan penerbit memiliki badan hukum sendiri.

Artinya setiap orang yang mempunyai kemampuan menerbitkan buku, boleh menerbitkannya tanpa memerlukan izin dari pihak terkaitselama masih memperhatikan etika-etika penerbitan. Kemajuan industri penerbitan buku di Indonesia juga bisa dilihat dari antusiasmemasyarakat Indonesia yang semakin menunjukan gejala mencintai membaca buku. Terdapat beberapa poin terkait agar kita mengenal penerbit buku lebih jauh.

Apa itu Penerbit Buku?
Langkah awal cara menerbitkan buku di penerbit buku adalah mengerti arti Penerbit buku. Penerbit buku adalah lembaga atau institusi yang mengolah naskah mentah dari penulis. Menurut Leksikon Grafika penerbit adalah orang yang berusaha mengeluarkan naskah sebagai barang cetak jadi untuk disebarluaskan. Secara umum penerbit buku bisa dibedakan menjadi penerbit umum dan penerbit khusus. Penerbit umum artinya menerbitkan buku populer ataupun ilmiah secara umum. Sedangkan penerbit khusus adalah penerbit spesialis yang menerbitkan buku-bukukhusus seperti buku teks pelajaran, buku perguruan tinggi, buku agama atau rohani maupun buku-bukukedokteran.
Dalam perkembangannya, banyak sekali penerbit buku khusus yang juga ikut menerbitkanbuku umum. Misalnya Mizan sebagai penerbit buku-buku islami belakangan ikut juga menerbitkanbuku umum seperti novel fiksi dan lain-lain. Kondisi ini melahirkan banyak imprint (brand penerbitan) semisal Mizan Fantasi yang menerbitkan buku-buku fiksi dari dalam dan luar negeri.

Contoh lain ialah Penerbit Deepublish yang menerbitkan buku-buku ilmiah. Khususnya karya-karya kademisi seperti dosen untuk meningkatkan gairah intelektual tinggi, serta menggali potensi dosen di Indonesia.

Lalu Apa Tujuan Penerbitan?
Langkah awal cara menerbitkan buku dpenerbit buku adalah mengerti tujuan penerbitan. Gagasan mendirikan penerbitan tentunya untuk mencapai tujuan tertentu. Ada banyak tujuan yang melatar belakangi dirikannya penebit. Baik tujuan penerbitan itu sendiri maupun tujuanorang atau lembaga penelitian. Secara umum tujuan penerbitan adalah sebagai pelaku penyebaran dan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Menyajikan berbagai ilmu pengetahuan melalui produk penerbitan. Melakukan perdagangan dengan mencari keuntungan penjualan produk terbitannya.

Apa Tugasnya Penerbit Buku?
Sebagai bagian dari jejarig penerbitan, penerbit mempunyai peran yang sangat vital.Pada dasarya tugas penerbit adalah mengkordinasikan unsur-unsur penerbitan sepertipenulis, percetakan, distributor dan lain-lain. Tugas penerbit adalah Menggandakan Naskah, Mencari pengarang/penulis, Memperkirakan biaya produksi (meliputi bahan baku, distribusi), Mengestimasi daya jual, Menghubungi desainer, Hubungi percetakan, Promosi dan distribusi, Perjanjian penerbit.

Karakteristik Penerbit Buku
Penerbit memiliki karakterisitik tertentu. Salah satunya, Karakteristik Penerbit Berdasarkan Service Orientation. Karakteristik penerbit berdasarkan service orientation maksudnya penggolonganpenerbit berdasarkan orientasi pelayanannya.
Berdasarkan kategori ini penerbit dibagi menjadi dua yaitu penerbit konvensional dan penerbit moderat. Penerbit konvensional menerbitkan buku sesuai dengan kebijakan penerbit dan mendistribusikannya kepada calon konsumen. Sedangkan penerbit moderat, menerbitkan buku dengan mengakomodasi keinginan calon pembeli, atau pembaca berdasarkan kebutuhan atau tren yang sedang berkembang.

Hubungan Penerbit Buku dengan Percetakan
Setelah penulis mengirim naskah dan diterima oleh penerbit buku, naskah selanjutnya melewati tahap editorial, tahap perwajahan dalam maupun luar sampai disetujui menjadi dummy atau prototype buku oleh dewan redaksi.
Setelah sepakat dengan prototype buku yang dikehendaki, maka buku siap untuk dicetak oleh pihak percetakan.Dalam prosesnya percetakan berkordinasi dengan pihak penerbit soal jenis kertasyang dipakai maupun jumlah oplah yang dicetak. Pihak percetakan akan berusahamemaksimalkan hasil cetakan dengan biaya yang seefektif mungkin.
Disinilah perlunya kordinasi antara penulis, ilustrator dan dewan redaksi dalam mencetak buku yang terjangkaunamun bermutu tinggi.Percetakan hanya bertanggung jawab pada hasil cetakan bukan pada substansi bukuyang bersangkutan.
Oleh karenanya sering kita temui kata-kata di dalam buku atau majalahseperti “ Isi diluar tanggung jawab percetakan “. Kata-kata ini sudah memberikan gambaranyang jelas mengenai perbedaan antara penerbit dan percetakan. Penerbit bertanggung jawabatas substansi atau konten buku, sedangkan percetakan bertanggung jawab atas bentuk fisikbuku.

Distributor Buku sampai ke Pembaca
Distributor buku dalam peranannya di jejaring industri penerbitan yakni menyebarluaskan produk penerbitan. Jika kita belajar dari India, setiap provinsi disana sudah memiliki percetakan sendiri, jadi biaya distribusi bisa ditekan dan harga buku menjadi relatif murah. Dengan wilayah negara Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau, kebutuhan akan percetakan di daerah harus segera direalisasikan demi tersebarnya buku-buku untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Agen atau toko buku adalah tempat bagi para pembaca ataupun konsumen mendapatkan buku yang mereka inginkan. Sekarang banyak sekali toko buku-toko buku bermunculan di Indonesia utamanya di daerah perkotaan. Toko buku Gramedia bahkan sudah ada di hampir seluruh Mall di Indonesia.

Di negara besar seperti Amerika toko buku sudah didesain seperti perpustakaan. Semua buku dapat dibaca karena tidak dilapisi dengan plastik.Bahkan toko buku Borders di Amerika menyediakan kafe untuk istirahat, dan ruang ruangannya ditata sedemikian rupa membuat pengunjung betah berlama-lama.

Pembaca adalah sasaran utama dari serangkain proses penerbitan. Melalui para pembaca inilah produk industri penerbitan mendapat respon, penilaian maupun apresiasi.Meskipun perkembangan teknologi yang kian pesat memudahkan manusia mengakses informasi, buku masih tetap menjadi sarana utama untuk mengkomunikasikan pengetahuan.
Penerbit yang baik adalah penerbit yang mampu mengakomodasi keinginan pembacanya. Penerbit-penerbit konvensional yang hanya menerbitkan buku berdasarkan program penerbitannya cenderung ditinggalkan pembaca. 

Penerbit sekarang harus pula berorientasi layanan, peka terhadap perubahan pasar yang setiap saat berubah tanpa mengabaikan tujuan utama penerbitan yaitu ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sekian artikel "Cara menerbitkan buku langkah awal: Mengenal Lebih Jauh Tentang Penerbit Buku" semoga bermanfaat.

Baca juga artikel :
Salah Satu Cara Menerbitkan Buku Adalah Dengan Mengenal Hak Cipta Penerbitan Buku



 [Khairul Maqin]


Ingin Menulis Buku? Simak Lima Tahapan Cara Menerbitkan Buku Ini Dulu!

Ingin Menulis Buku? Simak Lima Tahapan Cara menerbitkan Buku Ini Dulu!   


Menulis buku sebenarnya mudah, hanya saja kita perlu berusaha dan harus ada niat juga tekad kuat, karena menulis bukanlah suatu kegiatan yang simsalabim langsung jadi dan diterbitkan oleh penerbit buku

cara menerbitkan buku | penerbit buku

Cara menerbitkan buku yang baik dan benar adalah dengan mengikuti tahapan-tahapan menulis yang ideal. Pada hakikatnya, imajinasi, dan intelektualitas juga adalah syarat untuk dapat membentuk landasan menulis yang kuat. Imajinasi adalah modal untuk membentuk visualisasi tulisan, sedangkan intelektualitas berfungsi sebagai sinkronisasi alam pikiran dengan dunia nyata. Akan tetapi, menulis bermodal imajinasi dan intelektualitas yang dibungkus secara asal-asalan akan menyebabkan tulisan yang dibukukan menjadi tidak bermutu. Berdasarkan hal itu pula, penting bagi kita untuk memahami teknik penulisan buku secara baik dan benar.

Teknik penulisan adalah bagian dari teknik pembukuan tulisan berdasarkan tujuan pembuatan. Selain teknik penulisan, ada teknik pengumpulan informasi, dan ada juga teknik pembungkusan buku agar sampul atau konten didalamnya lebih enak dipandang. Namun, teknik yang akan kita bicarakan kali ini berfokus kepada teknik penulisan buku. Teknik penulisan buku yang kita bahas pula adalah teknik penulisan secara bertahap.
Ibarat kita mendaki sebuah gunung, tidak mungkin bagi kita satu langkah mendaki tiba-tiba langsung berada di puncak gunung. Mendaki gunung tentunya membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Dalam pendakian itu pula kita akan menjumpai pos-pos untuk mengetahui sejauh mana kita sampai. Begitu pula dalam menulis buku, tahapan penulisan adalah pos yang mengukur jauh mana tulisan kita. Jika kita ingin mengetahui pos/tahapan yang kita lalui untuk meraih kemenangan dalam membukukan tulisan kita, berikut tahapan-tahapan yang wajib kita ketahui.

Prewriting (Pra-menulis) : TAHAP I  | cara menerbitkan buku
Topik adalah tema besar dalam penulisan buku yang bisa bermacam-macam jenisnya sesuai kebutuhan maupun keinginan. Dalam tahap prewriting adalah tahap dimana kita harus menentukan topik, tujuan penulisan, serta penyesuaian gaya bahasa melalui proses berpikir. Lalu, tujuan penulisan ada 3 jenisnya yaitu; to inform (menyampaikan informasi), to entertain (menghibur), dan to persuade (untuk mempengaruhi). Hingga nantinya penyesuaian bahasa akan berdasarkan topik dan tujuan penulisan tersebut. Sebabnya, akan sangat tidak cocok jika kita menulis cerita fiksi dengan gaya formal. Apalagi jika kita menulis sebuah buku ilmiah, tentunya ada tuntutan-tuntutan kaidah ilmiah yang harus kita pegang tak terkecuali gaya bahasa.

Bagi para penulis pemula, terkadang tahap ini sedikit terabaikan karena para penulis tersebut langsung berorientasi kepada hasil tulisan semata. Padahal hal inilah yang terkadang membuat penulis kehilangan arah karena tidak memiliki kemantapan tujuan menulis. Pada beberapa kasus, ada juga penulis yang bingung menentukan atau mengawali tulisan padahal, penulis tersebut merasa geregetan untuk segera menulis. Oleh karena itu, berikut sedikit tips dalam tahap prewriting.

1. Brainstorming
Adalah proses awal,  kita tidak perlu menuliskannya menjadi satu kalimat utuh apa saja yang melintas dalam pikiran kita. Cukup tuliskan kata kerja, kata benda, atau prasa yang kita pikirkan. Setelah kita menuliskannya, maka poin-poin pokok tulisan akan terlihat.
Contoh: Kita ingin menulis tentang  perkembangan mental remaja karena sinetron TV
  • Kehidupan remaja masa kini
  • Remaja
  • Stasiun TV
  • Program TV selain sinetron
  • Konten dalam sinetron
  • Tuntutan pergaulan
  • Komisi Penyiaran Indonesia
  • Jam tayang
Dengan menuliskan poin-poin pikiran, kita akan lebih mudah untuk mengoneksikan poin-poin tersebut menjadi satu kerangka pokok bahasan.

2. Freewriting
Adalah teknik pre-writing yang menggunakan teknik asal menulis. Pada tahap ini, kita tidak perlu memerlukan gaya bahasa, diksi, dan segala aturan-aturan umum dalam penulisan.  Cukuplah tulis saja apa yang kita pikirkan dengan kosa kata ciri khas kita! Dengan begitu, uneg-uneg yang membuat gregetan didalam kepala kita dapat tercurahkan.

3. Directed Questioning
Adalah cara untuk mengetahui topik pembahasan tulisan kita melalui pertanyaan terbuka yang ditujukan untuk diri kita sendiri. Salah satunya dengan metode 5W+1H; What (Apa), who (Siapa), why (Mengapa), where (Dimana), when (Kapan), dan how (Bagaimana). Contohnya:
Topik: Budaya korupsi.
  • Apa saja bentuk lain dari budaya KKN?
  • Sejak kapan budaya KKN mulai timbul?
  • Mengapa budaya KKN begitu dominan?
  • Siapa yang bertanggung jawab atas kemunculan budaya KKN?
  • Di(mana) sektor mana saja kah KKN dapat terjadi?
  • Bagaimana cara menanggulangi budaya KKN?
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul tidak harus selalu menuntut 5W+1H, tapi bisa bermacam-macam jenisnya. Asalkan kumpulan pertanyaan tersebut dapat menjadi acuan bahasan untuk tulisan kita, sudahlah cukup untuk tahap awal.

Penyelarasan garis besar (Outlining) : TAHAP II   | cara menerbitkan buku
Setelah pokok bahasan utama sudah dibuat, saatnya menyusun pokok bahasan utama tersebut kedalam satu garis besar. Garis besar yang dimaksud adalah merapikan poin-poin bahasan kedalam satu naskah agar mempunyai alur pembahasan. Alur pembahasan tersebut juga ditujukan agar tulisan kita tidak berakhir anti-klimaks. Berikut langkah-langkah penulisan outline paling mudah. (Setiati 2008: 46).

Langkah-langkah penyusunan outline:
  • Tentukan tema besar buku atau biasa disebut tema besar topik.
  • Tema besar topik bisa Anda jadikan judul tulisan (head)
  • Buatlah Bab 1 sebagai pembahasan awal dari topik Anda
  • Dari Bab 1 tersebut buatlah sub-subjudul yang bersumber pada topic
  • Kemudian, buat Bab 2 hingga bab akhir, yang merupakan pengembangan dari pembahasan utama disertai sub-subjudul
  • jangan lupa tuliskan nama penulis di bawah judul (by name)

Cara membuat naskah awal menuju ke bab per bab selanjutnya:
  • Tulis judul besar pada Bab 1 yang adalah kepala judul
  • Di bawah judul Bab 1, Anda bisa membuat bagian pembuka tulisan yang isinya merupakan pendapat orang, kata-kata mutiara, atau ringkasan pembahasan bab.
  • Selanjutnya, buatlah ‘jembatan penghubung’ antara intro dengan isi tulisan. Bisa berupa pertanyaan atau pengantar menuju isi tulisan
  • Kemudian, buatlah isi tulisan yang nantinya bisa Anda kembangkan menjadi beberapa subjudul.
  • Setelah Bab 1 selesai ditulis, buat bab selanjutnya seperti langkah di atas.
  • Di akhir naskah, Anda bisa membuat bab penutup yang isinya berupa kesimpulan akhir dari seluruh pembahasan bab. Mengakhirinya dengan pertanyaan tanpa jawaban juga dapat dilakukan, terutama kepada buku yang memiliki tujuan persuasif.

Penulisan dan pembahasan isi naskah secara kasar : TAHAP III  | cara menerbitkan buku
Pada tahap ini, kita mulai menulis inti pokok bahasan. Tulislah apa saja yang ada dikepala dan gunakanlah referensi serta data yang didapat. Secara tidak langsung, tahap ini sebenarnya adalah bagian dari freewriting tingkat lanjut. Hanya saja, kita sudah mulai diwajibkan menulis bahasan dengan cara yang lebih tertata. Tidak terlalu terfokus kepada teori menulis bukan berarti kita menulis dengan asal-asalan saja. Supaya tidak terlalu banyak tenaga terbuang, serta demi efisiensi proses penulisan, maka perhatikan penulisan anda walau dengan upaya kecil dahulu.

Mulailah dengan menuliskan naskah secara kasar saja, tanpa perlu telalu terfokus kepada teori menulis. Hal ini dikarenakan, pikiran kita akan lebih mudah berselaras dengan tulisan kita, jika kita tidak terlalu banyak membebani pikiran dengan memikirkan dua hal sekaligus. Anda dapat membuktikannya sendiri jika tidak percaya.

Rewriting (Penulisan ulang) : TAHAP IV   | cara menerbitkan buku
Pada tahap ini, saatnya kita menulis ulang kembali naskah kasar yang telah kita tulis sebagai naskah sempurna. Sempurna dalam hal ini adalah naskah yang telah kita buat wajib memenuhi standar atau kaidah bahasa yang digunakan. Dalam Bahasa Indonesia, kita tahu bahwa kaidahnya adalah Bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Kita wajib memerhatikan bagaimana naskah kita bercerita dan bagaimana kosakata yang ada dalam tulisan berada pada tempatnya.
Penulisan ulang juga ditujukan untuk mengoreksi tulisan kita agar mudah dibaca. Semakin tulisan kita mudah dipahami, maka akan semakin bagus buku itu nantinya. Hal yang dapat menjadi pertimbangan agar dapat mudah dipahami adalah sudut pandang tulisan, penggunaan kata ganti, dan logika bahasa.  Terutama logika bahasa, jika logika bahasa dalam tulisan kita terkesan jumping logic, maka kualitas tulisan menjadi kurang baik.

Pengeditan : TAHAP V   | cara menerbitkan buku
Tahap ini adalah tahap akhir sekaligus finishing dari proses penulisan buku kita sebelum dikirimkan kepada penerbit buku. Pada tahap ini, kita lebih fokus kepada teknis diluar isi tulisan daripada isi tulisan itu sendiri. Hal-hal yang bersifat teknis tersebut diklasifikasikan seperti penggunaan tanda baca, pengunaan huruf kapital, ungkapan-ungkapan asing, pemerataan paragraf, sampai penggunaan spasi. Jika ingin menambahkan gambar kedalam tulisan, pastikan juga gambar tersebut berharmonisasi dengan tulisan-tulisan disekitarnya agar enak dipandang. Jangan lupa, sertakan biografi singkat tentang sang penulis sebagai media promosi pribadi.

Demikianlah beberapa tahapan untuk menulis buku yang merupakan bagian dari cara menerbitkan buku agar dapat menjadi buku yang lebih berkualitas. Memang pada dasarnya tahapan-tahapan ini cenderung digunakan pada penulisan buku yang bersifat ilmiah. Walaupun begitu, tahapan-tahapan ini juga dapat digunakan kepada penulisan buku fiksi dengan metode yang sama namun lebih sederhana. Oleh karena itu, jika sudah paham lima tahapan penulisan buku ini mempelajari cara menerbitkan buku selanjutnya akan lebih mudah, beranilah untuk menulis buku yang membuat geregetan Anda terpuaskan.

Setelah mengikuti tahap-tahap ini maka naskah jadi dan siap terbit pun bukan hanya mimpi belaka, maka siaplah menghubungi penerbit buku. dan mimpi Anda bisa segera terwujud.

Sekian artikel "Ingin Menulis Buku? Simak Lima Tahapan Cara Menerbitkan Buku Ini Dulu!" semoga bermanfaat bagi anda yang membutuhkan.

Selanjutnya Anda bisa membaca Artikel kami yang sejenis:
Cara menerbitkan buku | Kerjasama Profesional Antara Penulis dan Penerbit Buku 

[mag]

Friday, September 2, 2016

Mengapa Naskah Saya Ditolak Penerbit buku? | Cara Menerbitkan Buku

Mengapa Naskah Saya Ditolak Penerbit buku? | Cara Menerbitkan Buku

Mengapa naskah saya ditolak penerbit buku? Pertanyaan ini menjadi hal yang sangat perlu untuk dijawab oleh para penulis buku yang tidak mengetahui cara menerbitkan buku yang baik dan benar. 

cara menerbitkan buku penerbit buku 001
Gambar. Dosen bingung cara menerbitkan buku yang baik dan benar


Jika anda mengetahui cara menerbitkan buku yang baik dan benar anda akan mengetahui alasan penolakan dan letak kekurangan naskah menjadi penting bagi Anda yang seringkali mengalaminya. Anda dapat menyimak ulasan berikut untuk tahu lebih banyak mengenai alasan tidak diterimanya naskah oleh penerbit buku.

Cara menerbitkan buku yang salah menjadi hal yang cukup mendukung naskah-naskah yang anda kirimkan ditolak oleh penerbit buku. Hal tersebut menjadikan munculnya prasangka bahwa menerbitkan buku bukanlah perkara mudah. Padahal perlu diketahui beberapa alasan penolakan naskah sehingga Anda sebagai penulis tahu letak kekurangan Anda. Apa sajakah alasan ditolaknya naskah oleh penerbit buku?

Berikut ini dapat Anda simak beberapa alasan yang menjadikan karya Anda belum bisa diterbitkan.

Alasan pertama penolakan naskah juga terjadi karena ketinggalan zaman. Naskah yang sudah tidak tren lagi tidak akan diterima oleh penerbit. Naskah yang ketinggalan zaman juga mencakup naskah-naskah yang terlambat dikirim. Misalnya saja, seorang penulis mengirimkan naskah tentang perkembangan teknologi beberapa tahun lalu, tetapi pada masa kini sudah tidak lagi terpakai. Hal ini jelas tidak akan menarik perhatian penerbit karena pembaca membutuhkan sesuatu yang selalu up to date alias kekinian.

Untuk menulis buku yang tidak ketinggalan zaman, penulis bisa memilih tema-tema yang dapat dibaca dari waktu ke waktu. Jika penulis ingin mengirimkan naskah bergenre fiksi, ia bisa menuliskan cerita yang jalan ceritanya sudah bisa ditebak. Sementara itu, jika ia ingin menulis buku nonfiksi, ia perlu mengetahui perkembangan kabar dunia terkini. Menjadi penulis tidak tepat jika diibaratkan sebagai katak dalam tempurung. Penulis perlu menjadi orang yang memiliki wawasan luas dan mengikuti perkembangan zaman. Terlebih kini teknologi telah memudahkan kehidupan, bahkan dalam hal mencari informasi dan wawasan baru. Perlu juga bagi penulis untuk membaca karya penulis lain guna memperoleh inspirasi.

Lebih tahu perkembangan zaman juga bisa dilengkapi dengan pengetahuan tentang perkembangan penerbitan. Dari media sosial, Anda bisa mencoba mencari tahu seputar buku-buku baru. Anda juga perlu mencari tahu tentang buku-buku yang sedang atau akan laris di kalangan pembaca. Hal ini penting untuk memberikan gambaran tentang genre buku yang akan banyak diminati.

Alasan kedua. Masih ada kaitannya dengan alasan pertama, tidak diterimanya naskah Anda oleh penerbit bisa jadi karena tema atau isi naskah Anda terlalu banyak di pasaran. Pada dasarnya perkembangan dunia buku juga dinamis. Terkadang terdapat tema-tema tertentu yang sedang digemari sehingga bisa laris terjual di pasaran. Di samping itu, ada juga tema-tema lainnya yang menjadi kurang digemari karena sedang tidak populer. Meskipun begitu, menulis buku dengan tema-tema yang sama saja juga akan membuat pembaca jenuh.

Terlalu banyak buku dengan tema yang itu-itu saja kemudian membuat pembaca bosan. Oleh karena itu, perlu adanya ide baru yang menarik bagi penerbit juga pembaca. Penerbit buku akan mencari gagasan-gagasan yang tidak pasaran, unik, dan baru. Selain itu, penerbit juga akan mengincar sesuatu yang lama tetapi ditulis kembali dengan cara baru. Penulis yang belum memiliki gagasan baru dapat menggunakan cara tersebut untuk menulis buku kembali. Kemudian ia bisa menerbitkannya menjadi sesuatu yang terkesan baru.

Ide-ide baru akan menarik perhatian penerbit. Seseorang yang punya ide baru akan memiliki inovasi dalam mengembangkan karyanya sehingga secara substansial naskahnya tidak pasaran. Perhatian editor pun semakin besar ketika ada ide yang ‘segar’ untuk diterbitkan. Untuk mendapatkan ide-ide baru tentunya diperlukan kreativitas dari si penulis sendiri. Banyak membaca juga bisa membantu memunculkan ide-ide baru untuk dituangkan dalam naskah.

Alasan ketiga yang juga menjadikan naskah Anda ditolak adalah ketidaksesuaian teknis penulisan dengan kriteria yang ditetapkan penerbit. Tidak akan diterima suatu naskah jika ditulis dengan teknis yang berantakan, meskipun isi tulisannya bagus. Naskah yang tidak mematuhi kaidah tata bahasa dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) akan ditolak, bahkan tidak terbaca oleh penerbit. Harusnya penulis sudah menyadari hal ini sedari awal, sebab penulis juga merupakan seorang agen bahasa. Ia memiliki tanggung jawab dalam menyajikan tulisan dengan bahasa yang baik dan bisa dipahami pembacanya. Tulisan atau naskah yang buruk dalam hal teknis membuat editor enggan memeriksanya. Naskah yang tidak sesuai kaidah penulisan yang benar bisa jadi dibuang atau disisihkan jauh-jauh dari proses penyuntingan.

Persoalan teknis juga terkait dengan jumlah halaman. Hal ini juga berkaitan dengan pertimbangan biaya produksi, marketing, dan lain-lain.  Sebagai penulis, sebaiknya Anda mengetahui kebijakan penerbit buku dalam menerima naskah. Jika Anda sudah mengetahuinya, Anda tidak akan menulis buku terlalu banyak atau terlalu sedikit. Naskah yang terlalu banyak dan tidak diterima suatu penerbit, Anda bisa mencoba untuk mengirimkannya ke penerbit lain. Bisa jadi penerbit lain mau menerima naskah Anda jika memang sesuai dengan kriteria teknis yang ditawarkan.

Alasan keempat adalah berasal dari penerbit buku. Tidak semua alasan penolakan naskah berasal dari penulis. Penerbit pun bisa menolak naskah karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Penerbit buku yang melihat pasar buku sedang tidak bagus memilih untuk tidak menerima naskah terlebih dahulu. Bisa juga antrean naskah yang panjang tidak memungkinkan lagi bagi penerbit untuk menerima naskah-naskah baru. Jadi memang penerbit tersebut benar-benar sedang tidak menerima naskah.

Adanya hal tersebut bisa diatasi dengan mengirimkan naskah ke penerbit lain. Namun sebelum mengirimkan ke penerbit lain, pastikan naskah Anda memiliki tema atau genre yang sesuai. Anda bisa mencari penerbit yang bisa menerima tema atau genre naskah yang Anda tulis. Tidak diterima oleh satu penerbit buku bukan berarti Anda tidak bisa menerbitkan buku Anda di penerbit yang lain.

Beberapa alasan di atas tentunya bisa menjadi perhatian Anda agar menulis buku dengan lebih baik lagi. Anda bisa mencari tahu sendiri letak kekurangan naskah Anda dan memperbaikinya. Setelah itu, Anda bisa mencoba mengirimkannya kembali ke penerbit buku. Menerbitkan buku memang membutuhkan upaya keras agar penerbit buku mau bermitra dengan Anda. Perlu usaha untuk mencoba lagi dan lagi agar naskah yang telah Anda tulis dapat diterima.

Sekian artikel "Mengapa Naskah Saya Ditolak Penerbit buku? | Cara Menerbitkan Buku" semoga artikel ini menambah wawasan Anda dalam hal penerbitan buku

Baca Juga artikel : Cara menerbitkan buku langkah awal: Mengenal Lebih Jauh Tentang Penerbit Buku

[Wfw]